Pasar Dayang Membaik
Radar Solo, 12 Januari 2006

Terpuruknya kondisi ekonomi saat ini bukan berarti semua produk ikut tersungkur. Terbukti, produk sepeda motor Dayang masih krisis. Bahkan, ketika daya beli masyarakat melemah, produk ini justru mendulang pasar.

Bos PT Dayang Motor Indonesia, Lukas Jayadi mengatakan, pasar Dayang bisa relatif stabil, bahkan ada sedikit kenaikan. terkait hal itu, pihaknya berani melakukan ekspansi seperti pembukaan beberapa cabang. "Setelah cabang Veteran, kami segera akan buka cabang di Gemblegan, Solo," katanya kemarin.

Ekspansi Dayang, kata dia, tak lain untuk merespons permintaan pasar yang terus meningkat. "Logikanya, kami tak akan ekspansi kalau peluang pasar tidak ada," tandasnya.

Pembukaan cabang di kawasan jalan Veteran, Solo Kemarin adalah cabang yang kedelapan. Cabang-cabang tersebut adalah yang menjadi milik atau dibawah kendali manajemen PT Dayang sendiri. Belum terhitung berapa banyak cabang atau diler yang didirikan pihak mitra Dayang di luar kota.

Khusus untuk cabang Veteran, yang menempati gedung bekas kantor Bank Umum Nasional (BUN) Lukas mengakui semula dirinya tidak berpikir untuk mendirikan cabang Dayang di lokasi ini. "Tadinya, saya membidik Bank Perkreditan Rakyat (BPR), tapi malah jadinya cabang Dayang," selorohnya.

Saat ini baru 3 staf yang ada di cabang baru tersebut. Tapi dalam jangka ke depan nantinya, setidaknya dibutuhkan 5 staf kantor dan 25 marketing. "Kami sedang menata manajemennya. Mudah-mudahan bisa secepatnya terpenuhi," lanjut dia.

Ditanya soal produk unggulan yang paling dijagokan untuk menembus pasar, Lukas menyatakan bahwa Shougun 125 merupakan produk yang paling banyak diminati dari semua merek Dayang. karena itu, penjualan produk Shougun selalu paling besar. Tapi secara global, keberhasilan produk dayang di pasar lebih dipengaruhi resisten harga yang sangat miring, dibanding produk motor jepang. (ole)

< back